KOMUNIKASI INTRA-PERSONAL
RESUME
Disusun untuk memenuhi tugas
kelompok mata kuliah Komunikasi
Sosial
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI
SEMARANG
2014
BAB
III
Komunikasi
Intra – personal
Komunikasi terjadi di
mana saja san kapan saja dimulai dari
ranah mikro dan makro. Mulai dari dua orang, antar beberapa beberapa orang dan
antara orang banyak. Secara teoritis, konteks komunikas dapat dibagi dengan
berbagai cara, tergantung kategori yang digunakan. Misalnya berdasarkan muatan
pesan, komunikasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis , misalnya:
1.
Komunikasi bisinis, yaitu: komunikasi
yang pesannya berisi atau bertujuan untuk memasrkan produk dan mendapat
keuntungan.
2.
Komunikasi politik, yaitu: komunikasi
yang berkaitan dengan upaya untuk memperoleh dan mendistribusikan kekuasaan
atau kebijakan lembaga politik.
3.
Komunikasi kesehatan, yaitu: komunikasi
yang terjadi dalam upaya manusia untuk menyembuhkan orang yang sakit.
4.
Komunikasi sosial, yaitu : komunikasi
yang berisi pesan – pesan sosial bagi masyarakat, yang bertujuan untuk mengajak
masyarakat peduli melakukan tindakan – tindakan
sosial.
A. Psikologi
Komunikasi Intra-pribadi
Komunikasi, sebagai proses pertukaran dan
penyampaian pesan, lahir dari suatu hubungan. Bicara soal hubungan, berarti
juga ada pihak (benda, materi) yang terdiri lebih dari satu. Karena bayangan
kita pasti seperti ini: sesuatu yang satu (dari hasil hubungan, dari berpisah
kemudian menjadi menyatu) pasti berasal dari gabungan yang lebih dari satu
(minimal dua). Bukankah aneh jika berangkat dari satu pribadi (tubuh hidup yang
berpikiran dan berperasaan) (jika terjadi komunikasi, berarti ada dua atau
lebih di dalam tubuh ini), berarti ada dua atau lebih kepribadian; berarti ada
dua atau lebih kepribadian atau berpribadi ganda.
Dengan pemahaman penulis yang berangkat dari
pemahaman matrealis – dialektis – histori (MDH), pada bagian ini penulis ingin
mengolaborasi hal tersebut. Masnusia sebgaai kesatuan material dalam bentuk
tubuh yang terdiri dari materi-materi. Juga, manusia yang memiliki pikiran dan
perasaan dihadapkan pada alam sebagai realitas, dan sebagai bagian dari alam
yang memenuhi dirinya dengan dan dari alam dan mengubah alam. Jika komunikasi
adalah suatu hubungan antara satu hal atau lebih, kita harus melihat tubuh
sebagai kesatuan material. Jadi, tubuh itu satu, tetapi kesatuan ini dibentuk
oleh kumpulan materi-materi yang menjalin hubungan sehingga kesatuan kerja ini
berfungsi membentuk manusia yang hidup. Kesatuan antara zat-zat itulah yang
saling berhubungan membentuk suatu dialektika.
Dialektika antara materi-materi tubuh inilah yang
sering menimbulkan keresahan saat tersambung langsung dengan perasaan dan
pikiran. Terjadi semacam dialektika material atau komunikasi antar materi,
antara yang positif dan negatis inilah yang yang menjadi landasan dasar terjadi
komunikasi pada tinggal ide dan perasaan. Hal ini dijelaskan dengan baik sekali
oleh R. P. FEYMNAN, “segala hal, bahkan diri kita sendiri, tersusun dari
butiran-butiran halus, bagian-bagian, plus dan yang berinteraksi dengan sangat
kuat, semua saling menyeimbangkan dengan rapi.
Selain kontradiksi dalam internal tubuh kita yang
sering menjadi basis wilayah tidak sadar dan keresahan atau semacam
kegalaun-kegalauan yang sulit terjelaskan (wilayah perasaan), hal lain yang
masih berkaitan dengannya adalah berkembangnya kemampuan berfikir atau
munculnya dunia ide dan pikiran.
Melalui proses evolusi yang panjang dalam
dialektikanya dengan alam, manusia telah mengalami perkembangan luar biasa di
dalam menghadapi alam. Evolusi telah menghasilkan perubahan-perubahan berupa
kemampuan. Salah satunya berkembangan otak dan kemampuan menggunakan bahasa
sebagai simbol yang mengatur hubungan antar manusia untuk berkomunikasi antar
satu dengan yang lain.
Dengan otak yang mampu bekerja merespon lingkungan
dan memiliki kekuatan menjelaskan lingkungannya. Ini adalah hasil dialektika
sepanjang sejarah. Komunikasi dalam diri manusia yang berupa
pertanyaan-pertanyaan dalam diri, tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai
bagian dari materi (tubuh) dan bagian dari materi alam pula yang mengalami kontradiksi,
misalnya lapar, haus dsb. Karena berhadapan dengan alam untuk memenuhi diri
yang di dalamnya terdapat manusia, ia sering mengadu pada diri sendiri,
bertanya-tanya pada diri, pada saat dunia luar tidak mampu memenuhi dirinya.
Kontradiksi dengan dunia luar dirinya, adalah suatu
penyebab manusia berkomunikasi dengan dirinya, salah satunya berpikir. Akan
tetapi, juga berbicara pada dirinya sendiri (self-talk) untuk memberi dirinya motivasi. Akan tetapi, juga ada
komunikasi diri sendiri yang melemahkan dan membuat diri semakin cenderung
memeiliki kepribadian lemah.
1.
Kepribadian
Jadi, percaya atau tidak, komunikasi dengan diri sendiri yang dilakukan
manusia sepanjang hidupnya adalah dasar bagi pembentukan kepribadian. Dalam
berhubungan dengan orang lain, melalui komunikasi, orang dapat dilihat dari
kemampuannya di bidang ini. Kita mengenal orang yang pendiam, tapi juga ada
orang yang sangat banyak bicara. Teori dasar Freud menekankan pada dorongan
insting individu untuk melakukan hubungan, baik internal maupun eksternal.
Menurut Erich Fromm, kalimat
“untuk memahami diri sendiri” sebenarnya sangatlah tua. Memahami diri sendiri
merupakan karakteristik dan kebutuhan yang khas manusiawi. Menusia sejati
adalah pemandu, pemimpin dari sang “Aku”, yang melakukan beberapa cara untuk
hidup di dunia.
Ketidaksadaran adalah watak
binatang, sedangkan statis adalah watak benda. Oleh karenanya, dialog kritis
dengan diri di era sekarang ini merupakan kebutuhan yang paling penting. Harus
dipahami bahwa manusia tidak seperti binatang dalam kaitannya dengan insting
yang dimilikinya. Jika kita sekedar mengonsumsi apa yang dikendalikan oleh
keinginan dan nafsu kita, hasil dari suatu propraganda kapitalis melalui
bujukan-bujukan iklan.
Menurut Erich Fromm,
psikoanalisis ini bukan hanya sebuah terapi, melainkan sebagai alat untuk
memahami diri sendiri. Target akhirnya bisa kita simpulkan: untuk menciptakan
struktur dan system social yang kondusuif bagi kemerdekaan setiap individu;
melenyapkan segala bentuk penidasan; dan menciptakan individu-individu yang
sehat dan otonom.
Pentingnya menggali diri
melalui alam bawah sadar merupakan metode terapi pendekatan psikoanalisis, yang
dipopulerkan oleh Sigmund Freud, adalah suatu cara bagaimana seorang terapis
berusaha membongkar pengalaman traumatis masa lalu pasiennya. Asumsinya adalah
kita harus tahu kegilaan diri kita sebelum kita ingin terbebass dai kegilaan
tersebut. Dalam hidup ini, kita dihadapkan pada penilaian tentang kualitas
kepribadian.
TAHU TENTANG DIRI
|
TIDAK TAHU TTG DIRI
|
|||
DIKETAHUI ORANG LAIN
|
Daerah Publik
(Publik Area)
A
|
Daerah Buta
(Publik Area)
B
|
||
TIDAK DIKETAHUI ORANG LAIN
|
Daerah Tersembunyi
(Hidden Area)
C
|
Daerah yg Tidak Disadari
(Uncoscius Area)
D
|
Secara umum kita mengenal dua kepribadian, yaitu ada
orang yang berjiwa terbuka da nada orang yan berjiwa tertutup. Tentu harus kita
katakana yang berkepribadian menarik adalah orang yang berkepribadian tebuka.
Tipe Kepribadian
Sikap Terbuka
|
Sikap Tertutup
|
Menilai perasaan secara objektif
dengan menggunakan data dan konsistensi berpikir logis
|
Menilai pesan berdasarkan
motif
|
Membedakan dengan mudah
gejala-gejala yang ada serta bisa melihat suasana
|
Berpikir simplisis
(berpikir hitam-putih), memakai pendekatan kawan-lawan, dan tidak melihat
situasi
|
Berorientasi pada isi
pesan (apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan)
|
Bersandar lebih banyak
pada sumber pesan dari pada isi pesan (siapa yang mengatakan, bukan apa yang
dikatakan)
|
Mencari informasi dari
berbagai sumber
|
Mencari informasi tentang
kepercayaan orang dai sumbernya sendiri, bukan kepercayaan orang lain
|
Lebih bersifat
profesionalisme dan bersedia mengubah kenyataan
|
Secara kaku mempetahankan
dan memegang teguh system kepercayaan
|
Mencari pengertian pesan
yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan
|
Menolak dan mengabaikan
pesan yang tidak konsisten dengan system kepercayaan
|
Tabel
Kepribadian Terbuka dan Tertutup
2.
Proses Komunikasi Intra – personal
Komunikasi
dalam diri bisa ditentukan oleh rangsangan dari dalam, seperti kontradiksi
dalam tubuh dan jiwa maupun dari luar yang memunculkan reaksi-reaksi berupa
pertanyaan di dalam diri.
Proses
komunikasi intra-personal yang dibahas di atas juga merupakam proses pengolahan
informasi ini, yang meliputi sensasi, persepsi, memori, dan proses perpikir.
a.
Sensasi
Sensai adalah proses menangkap
stimulan dan merupakan tahap paling awal dalam proses penerimaan informasi.
Sensasi berasal dari kata sense yang
berarti “pengindraan”, yang menghubungkan makhluk hidup dengan dunia luar (alam
dan lingkungannya). Sensai adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak
memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali
berhubungan dengan kegiatan alat indra.
Ilmu psikologi mengenal ada
sembilan alat indra: pengelihatan, pendengaran, kinestetis, vestibular,
perebaan, temperatur, rasa sakit, perasa, dan penciuman.
b.
Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang
objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan
informasi dan menafsirkan pesan.
c.
Memori
Memori adalah sistem yang sangat
berstruktur, yang menyebabkan makhluk hidup sanggup merekam fakta tentang dunia
dan menggunkan pengetahuan itu untuk mengarahkan atau mengontrol perilaku dan
tindakannya.
Menurut
T. Mussen dan M. Resenweigh dalam buku Psychology:an
Introduction (1973), secara singkat memori melewati tiga proses:
·
Perekaman (encoding) merupakan
pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit saraf internal.
·
Penyimpanan (storage) merupakan menentukan berapa lama informasi itu berada
dalam diri kita, dalam bentuk apa dan di mana. Penyimpanan dapat dikategorikan
menjadi dua bagian, yaitu penyimpana aktif dan penyimpana pasif.
·
Pemanggilan (retrieval) merupakan proses mengingat-ingat lagi, menggunaka
informasi yang disimpan.
B. Berpikir
dan Hasil Pergulatan dalam Diri
Berpikir adalah proses yang lengkap, yang
melibatkan, baik proses sensasi, persepsi, maupun memori.
Mengenai bagaimana orang berpikir
atau bagaimana orang menarik kesimpulan, dapat dibedakan, misalnya:
·
Berpikir autistik, yaitu sering disebut
melamun, seperti kegiatan fantasi, mengkhayal, wishful thinking, dll. Dalam berpikir ini, orang melarikan diri
dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastik.
·
Berpikir realistis, disebut juag
berpikir dengan nalar (reasoning),
yaitu berpikr dengan mengacu pada dunia nyata.
1.
Berpikir Kreatif (Creative Thinking)
Komunikasi
dalam diri yang kondusif akan melahirkan pribadi yang kreatif. Dalam hal ini,
berpikir kreatif seseorang menghsilkan suatu karya yang menjembatani
keberadaannya dalam kehidupan karena ia dianggap orang lain sebagai penemu dan
pencipta.
Banyak
yang beranggapan komunikasi intra-personal, terutama berpikir, akan mendukung
kecerdasan kreatif ini. Sejarah menunjukkan bahwa seorang autis, yang sibuk dengan
dirinya sendiri dan fantasi-fantasinya, juga telah melakukan komunikasi dalam
dirinya yang kelak akan menghasilkan sebuah penemuan besar yang sangat berguna
bagi sejarah perkembangan peradaban. Dialah Thomas Alfa Edison (1847-1931) yang
dimasa kecilnya autis dan bodoh. Siapa sangka bahwa anak yang masa kecilnya
dianggap bodoh dan autis itu menjadi penemu banyak hal.
Autisme
adalah gejala ketika anak berkomunikasi dengan dirinya. Istilah “autisme”
berasal dari kata autos yang berarti
‘diri sendiri’. Anak yang autis berarti banyak memiliki perhatian terhadap diri
sendiri atau sibuk dengan apa yang dilakukannya. Anak autis sering menimbulkan
kekeliruan bagi pengasuhnya kerna mereka terlihat normal, tetapi menunjukkan
tingkah laku dan pola perkembangan yang berbeda.
Gangguan
komunikasi dalam anak autis adalah gangguan komunikasi dengan orang lain
(interpersonal), dan bukan dengan dirinya. Beberapa ciri dalam komunikasi pada
anak autis antara lain:
· Perkembangan
bahasa yang lambat
· Terlihat
seperi memiliki masalah pendengaran dan tidak meperhatikan apa yang dikatakan
orang lain
· Jarang
berpicara
· Kadang
bisa mengatakan sesuatu, namun hanya sekedarnya saja
· Perkataan
yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan
· Mengeluarkan
bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang lain
· Meniru
perkataan atau pembicaraan oranglain (echolalia)
· Dapat
meniru kalimatt atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya
· Suka
menarik tangan orang lain bila meminta sesuatu
· Sering
menghindari kontak mata dan selalu menghindar dari pandangan orang lain
· Tidak
suka bermain dengantemannya dan sering menolak ajakan mereka
Apalagi,
pada orang normal, kecerdasan kreatif merupakan suatu kondisi yang diharapkan
muncul pada tiap-tiap individu. Kecerdasan ini menunjukkan suatu keunikan tiap
orang, yang melahirkan karya yang dihasilkan dari proses berpikir yang panjang
dan mendalam, tidak hanya sekedar melibatkan proses berpikir logis atau
realistis, tetapi juga proses autistik yang lahir dari perasaan atau hasrat.kecerdasan
kreatif berbeda dengan bentuk kecerdasan umum, spserti kecerdasan intelektual
biasa. Kecerdasan umum (IQ) tidak sama dengan kecerdasan kreatif.
Alan
J. Rowe mengatakan bahwa ada 4 tipe kecerdasan kreatif, antara lain:
· Intuitif
: berfokus pada hasil dan mengandalkan pengalaman masa lampau sebagai penuntun
dalam melakukan berbagai kegiatan
· Inovatif
: berkonsentrasi pada penyelesaian masalah, sistematis, dan mengandalkan data
· Imajinatif
: mampu memvisualisasikan peluang, artistik, senang menulis, dan berpikir “di
luar kotak”
· Inspirasional
: berfokus pada perubahan sosial dan rela berkorban demi mencapai tujuannya
tersebut
2.
Berpikir kritis (Critical Thinking)
Berpikir
kritis saat ini sangatlah mahal sekarang ini. Kehilangan pikiran kritis di era
sekarang ini tampaknya kian mewabah. Bahkan, para pengamat dan praktisi
mengeluhkan berbagai kemunduran cara berpikir dan analisi masyarakat di
berbagai macam lembaga.
Hilangnya
tradisi berpikir kritisa ini diakibatkan adanya ketimpangan, serta adnya
kekuasaan yang berusaha menghilangkan kebiasaan kritis itu. Orang-orang kaya
memperbanyak komunikasi dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya
sehingga tidak terlatih untuk menjalankan komunikasi dalam diri. Masalahnya,
realitas yang timpang dan kontradiktif yang memantik orang untuk berpikir
merenung, dan kemudian menhasilkan pemikiran dan gerakan baru. Sebaliknya,
orang msikin (yang juga tertindas oleh orang kaya) lebih banyak berkomunikasi
dalam diri, yang melatih wataknya juga.
Makna
komunikasi intra-personal atau komunikasi dalam diri memang bukan hanya sempit
pada situasi orang miskin, melainkan juga pada situasi ketika kesepian banyak
didaptkan untuk meningkatkan situasi merenunga dan bergulat dengan pemikiran.
Kesepian
mendatangkan momentum sakral yang membuat eksistensi diri membangunkan potensinya
berupa pemikiran reflektif dan mengakibatkan ditemukannya penemuan dan
kebaruan-kebaruan tentang makna diri. Bayangkan jika tidak ada kesepian, tentu
pemikiran reflektif akan selalu hilang. Jadi, bukan sebagai isolasi terhadap
realitas, kegiatanmerenung yang dimungkinkan dari kesepian justru memunculkan
suatu keberakaran dengan dunia melalui otak.
Membaca
adalah suatu kegiatan yang memacu kreativitas pikiran dan merangsang imajinasi
yang menjadi dasar bagi kecerdasan seorang manusia. Membaca akan memperkuat
daya prikir kritis malalui latihan imajinasi kreatif pada saat melakukannya.
Sedangkan menulis adalah kegiatan yang menandakan otonomi individu seseorang
karena ia mengaktualisasikan diri dengan menggoreskan huruf-huruf, kata-kata,
kalimat-kalimat, dan menuangkan gagasannya sebagai manusia yang berikir dan
mencipta.
Terdapat
dua efek komunikasi intra-personal bagi rakyat miskin, yaitu efek yang pertama
adalah melahirkan nalar kritis dan kemapuan otak dalam mempertanyakan, mengguat
dan melawan keadaan. Efek yang lain adalah ada kecenderungan bahwa orang msikin
menjadikan komunikasi pada dirinya menuju pada kondisi pasrah dan menyalurkan
kegalauan pada suartu dunia abstrak.
Komunikasi
atau penyampaian pesan yang gagal dalam realitasmembuat orang berkomunikasi
dengan dirinya atau sesuatu kekuatan yang dianggap oleh dirinya. Tuhan adalah
sejenis teman berkomunikasi baru bagi manusia yang proses komunikasinya dalam
benak. Efeknya, tidak ada pikiran kritis tentang kenyataan. Apalagi, saat
kenyataan itu diangggap sudah diatur Tuhan. Akhirnya, mereka selalu begitu
mudahnya mungkin gara-gara kemiskinan filsafat (kebodohan) dan kelemahan
psikologis diarahkan untuk menerima jawaban-jawaban yang menghibur dari cara
pandang kekuasaan Tuhan.
Banyak
orang berpikir bahwa semakin modern suatu masyarakat, akan semakin kritis pula
cara berpikirnya dan akan semakin mudah pula masyarakat mengatasi berbagai
macam kontradiksi. Kita melihat banyak orang yang putus asa dan sebagaian juga pada bentuk pelarian
yang kadang destruktif bagi orang lain.
Asktisme
bukan muncul dengan sendirinya, melainkan memang diciptakan oleh situasi
masyarakat tempat penindas(an) ingin
bercokol. Saat kapitalisme mendapatkan banyak serangan kritikan yang membuat
tatanan ini goyah, seiring di antara mereka berpikir tak rasional lagi atau
memang tak bisa berpikir rasional karena kehendak subjektifnya sejak kecil
selalu terpenuhi dengan kekayaan.
Kelas
penindas memang akan selalu dikejar-kejar bayangan orang yang ditindasnya, atau
musuh-musuhnya, saat pintu gerbang istana telah dianggap telah dianggap jebol
tidak mampu menghalau kekuatan musuh, sang raja mencari-cari pintu menuju ruang
gelap untuk bersembunyi. Sebagai hasil tatanan penindasan. Selelu cenderung
melahirkan pemikiran yang tak ilmiah, tak didasari nalar, dan berdasar pada
ketidaktahumenahuan.
Dalam
keputusan politik kaum borjuis, keputusan itu didasarkan pada bisikan nasihat
orang yang mengambil keputusan dengan klenik atau tahayul. Jika memiliki
pikiran yang kritis, kreatif, dan solutif, mengapa orang-orang bahkan pengambil
kebijakan – menyelesaikan sesuatu bukan berdasarkan akal sehat, melainkan lebih
memilih pertimbangan dukun?
Pergeseran
menuju tradisi kembali ke dunia gelap di kalangan penguasa politik dan ekonomi
kapitalis itulah yang menunjukkan bahwa kebudayaan kita sebenarnya tengah
menuju pada kemundurannya yang paling tak dapat dibohongi. Efek berpikir
fatalis dan hilangnya pikiran kritis, kreatif, dan solutifbagi bangsa Indonesia
ternyata sangat parah; keterbelakangang, ketergantungan, dan kelemahan mental
rakyatnya dan kaum mudanya.
Kemunduran
berpikir dalam bentuk mengambil keputusan secara cepat dan instan berdasarkan
intituisi bukan hanya menyebabkan berbagai kebijakan dan tindakan yang diambil
menghasilkan kerugian, kerusakan, bahkan ketidakprofesionalan dalam bidangnya
dan upaya menggapai kesuksesan dan kepribadian yang dibutuhkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Berpikir
kritisa adalah sebuah keterampilan kognitif yang memungkinkan seseorang untuk
menginvestigasi sebuah situasi, masalah, pertanyaan, atau fenomena untuk bisa
membuat sebuah penilaian atau kepustusan. Berpikir kritis mengkobinasikan dan
mengkoordinasikan semua aspek kognitif yang dihasilkan oleh super-komputer
biologis yang ada di dalam kepala kita – persepsi, eomosi, intuisi, mode
berpikir linier maupun non-linier, dan juga penalaran induktif maupun deduktif.
Dalam
bukunya Beyond Feeling : A Guide to
Critical Thinking, Vincent Ryan
Ruggiero mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dasar yang terlibat dalam
pemikiran kritis:
· Menemukan
bukti
· Memutuskan
apa arti bukti itu
· Mencapai
kesimpulan berdasarkan bukti itu.
Dari
situ, yang biasanya harus ditempuh untuk membiasakan diri berpikir kritis,
antara lain:
a. Melakukan
Tindakan untuk Mengumpulkan Bukti-bukti
Bukti adalah suatu hal yang bisa
bersifat empiris (bisa kita lihat, sentuh, dengar, kecap, cium) ataupun
berbagai bentuk fakta yang dapat kita peroleh dari sebuah ototritas, kertas
riset, statistik, testimoni dan informasi lainnya.
b. Menggunakan
Otak, Buka Persanaan (Berpikir Logis)
Membiasakan berpikir logis
merupakan jalan penting untuk menemukan pikiran kritis. Kebanyakan manusia
belum mampu berpikir rasional, apalagi di tengah serangan irasionalitas media
pada zaman sekarang.
c. Skeptis
Skeptis adalah rasa ragu karena adanya
kebutuhan atas bukti. Artinya, tidak percaya begit saja sebelum menemukan bukti
yang kuat dan ditemukan sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Soyomukti,
Nurani. 2010. Pengantar Ilmu Komunikasi.
Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA

A Detachable Silicone Pump | Titanium-Arts
BalasHapusA Detachable titanium eyeglasses Silicone Pump. titanium vs ceramic flat iron A Detachable Silicone Pump. A titanium earring posts Detachable Silicone Pump. A Detachable Silicone Pump. A Detachable Silicone Pump. A Detachable smith titanium Silicone Pump. A Detachable Rating: titanium dog teeth implants 5 · 3 reviews · $42.99 · In stock