Jumat, 18 April 2014

Resume Komunikasi Intra – personal (Mata Kuliah Komunikasi Sosial)




KOMUNIKASI INTRA-PERSONAL

RESUME
Disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Komunikasi Sosial

















JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2014



BAB III
Komunikasi Intra – personal
Komunikasi terjadi di mana saja  san kapan saja dimulai dari ranah mikro dan makro. Mulai dari dua orang, antar beberapa beberapa orang dan antara orang banyak. Secara teoritis, konteks komunikas dapat dibagi dengan berbagai cara, tergantung kategori yang digunakan. Misalnya berdasarkan muatan pesan, komunikasi dapat dibagi menjadi beberapa jenis , misalnya:
1.      Komunikasi bisinis, yaitu: komunikasi yang pesannya berisi atau bertujuan untuk memasrkan produk dan mendapat keuntungan.
2.      Komunikasi politik, yaitu: komunikasi yang berkaitan dengan upaya untuk memperoleh dan mendistribusikan kekuasaan atau kebijakan lembaga politik.
3.      Komunikasi kesehatan, yaitu: komunikasi yang terjadi dalam upaya manusia untuk menyembuhkan orang yang sakit.
4.      Komunikasi sosial, yaitu : komunikasi yang berisi pesan – pesan sosial bagi masyarakat, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat peduli melakukan tindakan – tindakan  sosial.

A.      Psikologi Komunikasi Intra-pribadi
Komunikasi, sebagai proses pertukaran dan penyampaian pesan, lahir dari suatu hubungan. Bicara soal hubungan, berarti juga ada pihak (benda, materi) yang terdiri lebih dari satu. Karena bayangan kita pasti seperti ini: sesuatu yang satu (dari hasil hubungan, dari berpisah kemudian menjadi menyatu) pasti berasal dari gabungan yang lebih dari satu (minimal dua). Bukankah aneh jika berangkat dari satu pribadi (tubuh hidup yang berpikiran dan berperasaan) (jika terjadi komunikasi, berarti ada dua atau lebih di dalam tubuh ini), berarti ada dua atau lebih kepribadian; berarti ada dua atau lebih kepribadian atau berpribadi ganda.
Dengan pemahaman penulis yang berangkat dari pemahaman matrealis – dialektis – histori (MDH), pada bagian ini penulis ingin mengolaborasi hal tersebut. Masnusia sebgaai kesatuan material dalam bentuk tubuh yang terdiri dari materi-materi. Juga, manusia yang memiliki pikiran dan perasaan dihadapkan pada alam sebagai realitas, dan sebagai bagian dari alam yang memenuhi dirinya dengan dan dari alam dan mengubah alam. Jika komunikasi adalah suatu hubungan antara satu hal atau lebih, kita harus melihat tubuh sebagai kesatuan material. Jadi, tubuh itu satu, tetapi kesatuan ini dibentuk oleh kumpulan materi-materi yang menjalin hubungan sehingga kesatuan kerja ini berfungsi membentuk manusia yang hidup. Kesatuan antara zat-zat itulah yang saling berhubungan membentuk suatu dialektika.
Dialektika antara materi-materi tubuh inilah yang sering menimbulkan keresahan saat tersambung langsung dengan perasaan dan pikiran. Terjadi semacam dialektika material atau komunikasi antar materi, antara yang positif dan negatis inilah yang yang menjadi landasan dasar terjadi komunikasi pada tinggal ide dan perasaan. Hal ini dijelaskan dengan baik sekali oleh R. P. FEYMNAN, “segala hal, bahkan diri kita sendiri, tersusun dari butiran-butiran halus, bagian-bagian, plus dan yang berinteraksi dengan sangat kuat, semua saling menyeimbangkan dengan rapi.
Selain kontradiksi dalam internal tubuh kita yang sering menjadi basis wilayah tidak sadar dan keresahan atau semacam kegalaun-kegalauan yang sulit terjelaskan (wilayah perasaan), hal lain yang masih berkaitan dengannya adalah berkembangnya kemampuan berfikir atau munculnya dunia ide dan pikiran.
Melalui proses evolusi yang panjang dalam dialektikanya dengan alam, manusia telah mengalami perkembangan luar biasa di dalam menghadapi alam. Evolusi telah menghasilkan perubahan-perubahan berupa kemampuan. Salah satunya berkembangan otak dan kemampuan menggunakan bahasa sebagai simbol yang mengatur hubungan antar manusia untuk berkomunikasi antar satu dengan yang lain.
Dengan otak yang mampu bekerja merespon lingkungan dan memiliki kekuatan menjelaskan lingkungannya. Ini adalah hasil dialektika sepanjang sejarah. Komunikasi dalam diri manusia yang berupa pertanyaan-pertanyaan dalam diri, tidak bisa dilepaskan dari posisinya sebagai bagian dari materi (tubuh) dan bagian dari materi alam pula yang mengalami kontradiksi, misalnya lapar, haus dsb. Karena berhadapan dengan alam untuk memenuhi diri yang di dalamnya terdapat manusia, ia sering mengadu pada diri sendiri, bertanya-tanya pada diri, pada saat dunia luar tidak mampu memenuhi dirinya.
Kontradiksi dengan dunia luar dirinya, adalah suatu penyebab manusia berkomunikasi dengan dirinya, salah satunya berpikir. Akan tetapi, juga berbicara pada dirinya sendiri (self-talk) untuk memberi dirinya motivasi. Akan tetapi, juga ada komunikasi diri sendiri yang melemahkan dan membuat diri semakin cenderung memeiliki kepribadian lemah.

1.      Kepribadian
Jadi, percaya atau tidak, komunikasi dengan diri sendiri yang dilakukan manusia sepanjang hidupnya adalah dasar bagi pembentukan kepribadian. Dalam berhubungan dengan orang lain, melalui komunikasi, orang dapat dilihat dari kemampuannya di bidang ini. Kita mengenal orang yang pendiam, tapi juga ada orang yang sangat banyak bicara. Teori dasar Freud menekankan pada dorongan insting individu untuk melakukan hubungan, baik internal maupun eksternal.
Menurut Erich Fromm, kalimat “untuk memahami diri sendiri” sebenarnya sangatlah tua. Memahami diri sendiri merupakan karakteristik dan kebutuhan yang khas manusiawi. Menusia sejati adalah pemandu, pemimpin dari sang “Aku”, yang melakukan beberapa cara untuk hidup di dunia.
Ketidaksadaran adalah watak binatang, sedangkan statis adalah watak benda. Oleh karenanya, dialog kritis dengan diri di era sekarang ini merupakan kebutuhan yang paling penting. Harus dipahami bahwa manusia tidak seperti binatang dalam kaitannya dengan insting yang dimilikinya. Jika kita sekedar mengonsumsi apa yang dikendalikan oleh keinginan dan nafsu kita, hasil dari suatu propraganda kapitalis melalui bujukan-bujukan iklan.
Menurut Erich Fromm, psikoanalisis ini bukan hanya sebuah terapi, melainkan sebagai alat untuk memahami diri sendiri. Target akhirnya bisa kita simpulkan: untuk menciptakan struktur dan system social yang kondusuif bagi kemerdekaan setiap individu; melenyapkan segala bentuk penidasan; dan menciptakan individu-individu yang sehat dan otonom.
Pentingnya menggali diri melalui alam bawah sadar merupakan metode terapi pendekatan psikoanalisis, yang dipopulerkan oleh Sigmund Freud, adalah suatu cara bagaimana seorang terapis berusaha membongkar pengalaman traumatis masa lalu pasiennya. Asumsinya adalah kita harus tahu kegilaan diri kita sebelum kita ingin terbebass dai kegilaan tersebut. Dalam hidup ini, kita dihadapkan pada penilaian tentang kualitas kepribadian.


TAHU TENTANG DIRI
TIDAK TAHU TTG DIRI
DIKETAHUI ORANG LAIN
Daerah Publik
(Publik Area)
A
Daerah Buta
(Publik Area)
B
TIDAK DIKETAHUI ORANG LAIN

Efek Kegagalan Komunikasi
 
Daerah Tersembunyi
(Hidden Area)
C
Daerah yg Tidak Disadari
(Uncoscius Area)
D
Secara umum kita mengenal dua kepribadian, yaitu ada orang yang berjiwa terbuka da nada orang yan berjiwa tertutup. Tentu harus kita katakana yang berkepribadian menarik adalah orang yang berkepribadian tebuka.
Tipe Kepribadian
Sikap Terbuka
Sikap Tertutup
Menilai perasaan secara objektif dengan menggunakan data dan konsistensi berpikir logis
Menilai pesan berdasarkan motif
Membedakan dengan mudah gejala-gejala yang ada serta bisa melihat suasana
Berpikir simplisis (berpikir hitam-putih), memakai pendekatan kawan-lawan, dan tidak melihat situasi
Berorientasi pada isi pesan (apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan)
Bersandar lebih banyak pada sumber pesan dari pada isi pesan (siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan)
Mencari informasi dari berbagai sumber
Mencari informasi tentang kepercayaan orang dai sumbernya sendiri, bukan kepercayaan orang lain
Lebih bersifat profesionalisme dan bersedia mengubah kenyataan
Secara kaku mempetahankan dan memegang teguh system kepercayaan
Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaan
Menolak dan mengabaikan pesan yang tidak konsisten dengan system kepercayaan
Tabel Kepribadian Terbuka dan Tertutup
2.      Proses Komunikasi Intra – personal
Komunikasi dalam diri bisa ditentukan oleh rangsangan dari dalam, seperti kontradiksi dalam tubuh dan jiwa maupun dari luar yang memunculkan reaksi-reaksi berupa pertanyaan di dalam diri.
Proses komunikasi intra-personal yang dibahas di atas juga merupakam proses pengolahan informasi ini, yang meliputi sensasi, persepsi, memori, dan proses perpikir.
a.         Sensasi
Sensai adalah proses menangkap stimulan dan merupakan tahap paling awal dalam proses penerimaan informasi. Sensasi berasal dari kata sense yang berarti “pengindraan”, yang menghubungkan makhluk hidup dengan dunia luar (alam dan lingkungannya). Sensai adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra.
Ilmu psikologi mengenal ada sembilan alat indra: pengelihatan, pendengaran, kinestetis, vestibular, perebaan, temperatur, rasa sakit, perasa, dan penciuman.
b.         Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.
c.         Memori
Memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan makhluk hidup sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunkan pengetahuan itu untuk mengarahkan atau mengontrol perilaku dan tindakannya.
Menurut T. Mussen dan M. Resenweigh dalam buku Psychology:an Introduction (1973), secara singkat memori melewati tiga proses:
·         Perekaman (encoding) merupakan  pencatatan informasi melalui reseptor indra dan sirkuit saraf internal.
·         Penyimpanan (storage) merupakan menentukan berapa lama informasi itu berada dalam diri kita, dalam bentuk apa dan di mana. Penyimpanan dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu penyimpana aktif dan penyimpana pasif.
·         Pemanggilan (retrieval) merupakan proses mengingat-ingat lagi, menggunaka informasi yang disimpan.


B.       Berpikir dan Hasil Pergulatan dalam Diri
Berpikir adalah proses yang lengkap, yang melibatkan, baik proses sensasi, persepsi, maupun memori.
Mengenai bagaimana orang berpikir atau bagaimana orang menarik kesimpulan, dapat dibedakan, misalnya:
·           Berpikir autistik, yaitu sering disebut melamun, seperti kegiatan fantasi, mengkhayal, wishful thinking, dll. Dalam berpikir ini, orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastik.
·           Berpikir realistis, disebut juag berpikir dengan nalar (reasoning), yaitu berpikr dengan mengacu pada dunia nyata.

1.         Berpikir Kreatif (Creative Thinking)
Komunikasi dalam diri yang kondusif akan melahirkan pribadi yang kreatif. Dalam hal ini, berpikir kreatif seseorang menghsilkan suatu karya yang menjembatani keberadaannya dalam kehidupan karena ia dianggap orang lain sebagai penemu dan pencipta.
Banyak yang beranggapan komunikasi intra-personal, terutama berpikir, akan mendukung kecerdasan kreatif ini. Sejarah menunjukkan bahwa seorang autis, yang sibuk dengan dirinya sendiri dan fantasi-fantasinya, juga telah melakukan komunikasi dalam dirinya yang kelak akan menghasilkan sebuah penemuan besar yang sangat berguna bagi sejarah perkembangan peradaban. Dialah Thomas Alfa Edison (1847-1931) yang dimasa kecilnya autis dan bodoh. Siapa sangka bahwa anak yang masa kecilnya dianggap bodoh dan autis itu menjadi penemu banyak hal.
Autisme adalah gejala ketika anak berkomunikasi dengan dirinya. Istilah “autisme” berasal dari kata autos yang berarti ‘diri sendiri’. Anak yang autis berarti banyak memiliki perhatian terhadap diri sendiri atau sibuk dengan apa yang dilakukannya. Anak autis sering menimbulkan kekeliruan bagi pengasuhnya kerna mereka terlihat normal, tetapi menunjukkan tingkah laku dan pola perkembangan yang berbeda.
Gangguan komunikasi dalam anak autis adalah gangguan komunikasi dengan orang lain (interpersonal), dan bukan dengan dirinya. Beberapa ciri dalam komunikasi pada anak autis antara lain:
·      Perkembangan bahasa yang lambat
·      Terlihat seperi memiliki masalah pendengaran dan tidak meperhatikan apa yang dikatakan orang lain
·      Jarang berpicara
·      Kadang bisa mengatakan sesuatu, namun hanya sekedarnya saja
·      Perkataan yang disampaikan tidak sesuai dengan pertanyaan
·      Mengeluarkan bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang lain
·      Meniru perkataan atau pembicaraan oranglain (echolalia)
·      Dapat meniru kalimatt atau nyanyian tanpa mengerti maksudnya
·      Suka menarik tangan orang lain bila meminta sesuatu
·      Sering menghindari kontak mata dan selalu menghindar dari pandangan orang lain
·      Tidak suka bermain dengantemannya dan sering menolak ajakan mereka
Apalagi, pada orang normal, kecerdasan kreatif merupakan suatu kondisi yang diharapkan muncul pada tiap-tiap individu. Kecerdasan ini menunjukkan suatu keunikan tiap orang, yang melahirkan karya yang dihasilkan dari proses berpikir yang panjang dan mendalam, tidak hanya sekedar melibatkan proses berpikir logis atau realistis, tetapi juga proses autistik yang lahir dari perasaan atau hasrat.kecerdasan kreatif berbeda dengan bentuk kecerdasan umum, spserti kecerdasan intelektual biasa. Kecerdasan umum (IQ) tidak sama dengan kecerdasan kreatif.
Alan J. Rowe mengatakan bahwa ada 4 tipe kecerdasan kreatif, antara lain:
·      Intuitif : berfokus pada hasil dan mengandalkan pengalaman masa lampau sebagai penuntun dalam melakukan berbagai kegiatan
·      Inovatif : berkonsentrasi pada penyelesaian masalah, sistematis, dan mengandalkan data
·      Imajinatif : mampu memvisualisasikan peluang, artistik, senang menulis, dan berpikir “di luar kotak”
·      Inspirasional : berfokus pada perubahan sosial dan rela berkorban demi mencapai tujuannya tersebut

2.         Berpikir kritis (Critical Thinking)
Berpikir kritis saat ini sangatlah mahal sekarang ini. Kehilangan pikiran kritis di era sekarang ini tampaknya kian mewabah. Bahkan, para pengamat dan praktisi mengeluhkan berbagai kemunduran cara berpikir dan analisi masyarakat di berbagai macam lembaga.
Hilangnya tradisi berpikir kritisa ini diakibatkan adanya ketimpangan, serta adnya kekuasaan yang berusaha menghilangkan kebiasaan kritis itu. Orang-orang kaya memperbanyak komunikasi dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehingga tidak terlatih untuk menjalankan komunikasi dalam diri. Masalahnya, realitas yang timpang dan kontradiktif yang memantik orang untuk berpikir merenung, dan kemudian menhasilkan pemikiran dan gerakan baru. Sebaliknya, orang msikin (yang juga tertindas oleh orang kaya) lebih banyak berkomunikasi dalam diri, yang melatih wataknya juga.
Makna komunikasi intra-personal atau komunikasi dalam diri memang bukan hanya sempit pada situasi orang miskin, melainkan juga pada situasi ketika kesepian banyak didaptkan untuk meningkatkan situasi merenunga dan bergulat dengan pemikiran.
Kesepian mendatangkan momentum sakral yang membuat eksistensi diri membangunkan potensinya berupa pemikiran reflektif dan mengakibatkan ditemukannya penemuan dan kebaruan-kebaruan tentang makna diri. Bayangkan jika tidak ada kesepian, tentu pemikiran reflektif akan selalu hilang. Jadi, bukan sebagai isolasi terhadap realitas, kegiatanmerenung yang dimungkinkan dari kesepian justru memunculkan suatu keberakaran dengan dunia melalui otak.
Membaca adalah suatu kegiatan yang memacu kreativitas pikiran dan merangsang imajinasi yang menjadi dasar bagi kecerdasan seorang manusia. Membaca akan memperkuat daya prikir kritis malalui latihan imajinasi kreatif pada saat melakukannya. Sedangkan menulis adalah kegiatan yang menandakan otonomi individu seseorang karena ia mengaktualisasikan diri dengan menggoreskan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat, dan menuangkan gagasannya sebagai manusia yang berikir dan mencipta.
Terdapat dua efek komunikasi intra-personal bagi rakyat miskin, yaitu efek yang pertama adalah melahirkan nalar kritis dan kemapuan otak dalam mempertanyakan, mengguat dan melawan keadaan. Efek yang lain adalah ada kecenderungan bahwa orang msikin menjadikan komunikasi pada dirinya menuju pada kondisi pasrah dan menyalurkan kegalauan pada suartu dunia abstrak.
Komunikasi atau penyampaian pesan yang gagal dalam realitasmembuat orang berkomunikasi dengan dirinya atau sesuatu kekuatan yang dianggap oleh dirinya. Tuhan adalah sejenis teman berkomunikasi baru bagi manusia yang proses komunikasinya dalam benak. Efeknya, tidak ada pikiran kritis tentang kenyataan. Apalagi, saat kenyataan itu diangggap sudah diatur Tuhan. Akhirnya, mereka selalu begitu mudahnya mungkin gara-gara kemiskinan filsafat (kebodohan) dan kelemahan psikologis diarahkan untuk menerima jawaban-jawaban yang menghibur dari cara pandang kekuasaan Tuhan.
Banyak orang berpikir bahwa semakin modern suatu masyarakat, akan semakin kritis pula cara berpikirnya dan akan semakin mudah pula masyarakat mengatasi berbagai macam kontradiksi. Kita melihat banyak orang yang putus  asa dan sebagaian juga pada bentuk pelarian yang kadang destruktif bagi orang lain.
Asktisme bukan muncul dengan sendirinya, melainkan memang diciptakan oleh situasi masyarakat  tempat penindas(an) ingin bercokol. Saat kapitalisme mendapatkan banyak serangan kritikan yang membuat tatanan ini goyah, seiring di antara mereka berpikir tak rasional lagi atau memang tak bisa berpikir rasional karena kehendak subjektifnya sejak kecil selalu terpenuhi dengan kekayaan.
Kelas penindas memang akan selalu dikejar-kejar bayangan orang yang ditindasnya, atau musuh-musuhnya, saat pintu gerbang istana telah dianggap telah dianggap jebol tidak mampu menghalau kekuatan musuh, sang raja mencari-cari pintu menuju ruang gelap untuk bersembunyi. Sebagai hasil tatanan penindasan. Selelu cenderung melahirkan pemikiran yang tak ilmiah, tak didasari nalar, dan berdasar pada ketidaktahumenahuan.
Dalam keputusan politik kaum borjuis, keputusan itu didasarkan pada bisikan nasihat orang yang mengambil keputusan dengan klenik atau tahayul. Jika memiliki pikiran yang kritis, kreatif, dan solutif, mengapa orang-orang bahkan pengambil kebijakan – menyelesaikan sesuatu bukan berdasarkan akal sehat, melainkan lebih memilih pertimbangan dukun?
Pergeseran menuju tradisi kembali ke dunia gelap di kalangan penguasa politik dan ekonomi kapitalis itulah yang menunjukkan bahwa kebudayaan kita sebenarnya tengah menuju pada kemundurannya yang paling tak dapat dibohongi. Efek berpikir fatalis dan hilangnya pikiran kritis, kreatif, dan solutifbagi bangsa Indonesia ternyata sangat parah; keterbelakangang, ketergantungan, dan kelemahan mental rakyatnya dan kaum mudanya.
Kemunduran berpikir dalam bentuk mengambil keputusan secara cepat dan instan berdasarkan intituisi bukan hanya menyebabkan berbagai kebijakan dan tindakan yang diambil menghasilkan kerugian, kerusakan, bahkan ketidakprofesionalan dalam bidangnya dan upaya menggapai kesuksesan dan kepribadian yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berpikir kritisa adalah sebuah keterampilan kognitif yang memungkinkan seseorang untuk menginvestigasi sebuah situasi, masalah, pertanyaan, atau fenomena untuk bisa membuat sebuah penilaian atau kepustusan. Berpikir kritis mengkobinasikan dan mengkoordinasikan semua aspek kognitif yang dihasilkan oleh super-komputer biologis yang ada di dalam kepala kita – persepsi, eomosi, intuisi, mode berpikir linier maupun non-linier, dan juga penalaran  induktif maupun deduktif.
Dalam bukunya Beyond Feeling : A Guide to Critical Thinking,  Vincent Ryan Ruggiero mengatakan bahwa ada tiga aktivitas dasar yang terlibat dalam pemikiran kritis:
·      Menemukan bukti
·      Memutuskan apa arti bukti itu
·      Mencapai kesimpulan berdasarkan bukti itu.
Dari situ, yang biasanya harus ditempuh untuk membiasakan diri berpikir kritis, antara lain:
a.       Melakukan Tindakan untuk Mengumpulkan Bukti-bukti
Bukti adalah suatu hal yang bisa bersifat empiris (bisa kita lihat, sentuh, dengar, kecap, cium) ataupun berbagai bentuk fakta yang dapat kita peroleh dari sebuah ototritas, kertas riset, statistik, testimoni dan informasi lainnya.
b.      Menggunakan Otak, Buka Persanaan (Berpikir Logis)
Membiasakan berpikir logis merupakan jalan penting untuk menemukan pikiran kritis. Kebanyakan manusia belum mampu berpikir rasional, apalagi di tengah serangan irasionalitas media pada zaman sekarang.
c.       Skeptis
Skeptis adalah rasa ragu karena adanya kebutuhan atas bukti. Artinya, tidak percaya begit saja sebelum menemukan bukti yang kuat dan ditemukan sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Soyomukti, Nurani. 2010. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA

1 komentar:

  1. A Detachable Silicone Pump | Titanium-Arts
    A Detachable titanium eyeglasses Silicone Pump. titanium vs ceramic flat iron A Detachable Silicone Pump. A titanium earring posts Detachable Silicone Pump. A Detachable Silicone Pump. A Detachable Silicone Pump. A Detachable smith titanium Silicone Pump. A Detachable  Rating: titanium dog teeth implants 5 · ‎3 reviews · ‎$42.99 · ‎In stock

    BalasHapus